Pembuktian Iman

Pengertian iman


            Berdasarkan H.R. Ibnu Majah, iman mengandung pengertian “Dibenarkan dalam hati, dinyatakan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi iman tidak cukup sebatas pembenaran dan pengucapan tanpa berwujud amal saleh dari anggota badan [49:14].

  • Karakteristik Iman

Kualitas keimanan seseorang berbeda-beda, memiliki tingkatan-tingkatan sebagaimana pula kekafiran. Puncak tertinggi keimanan adalah ketaqwaan yang dilandasi oleh mahabbah (kecintaan) yang tinggi pada Allah. Para ulama mendefinisikan taqwa dengan “Hendaklah Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangan-Nya dan tidak kehilangan kamu dalam perintah-perintah-Nya”. Sebagian ulama mendefinisikan taqwa dengan mencegah diri dari azab Allah dengan membuat amal saleh dan takut kepada-Nya di kala sepi atau terang-terangan. Sayyid Qutb berkata dalam “Fi Zhilalil Qur’an” bahwa taqwa adalah kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus-menerus selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan…jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, harapan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan, ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti… dan masih banyak duri-duri lainnya.

 

Taqwa terbentuk dari suatu proses pengabdian (ibadah) yang intens [2:21, 2:183]. Taqwa merupakan suatu fase kematangan yang sempurna, sebagai hasil interaksi antara iman, Islam dan ikhsan. Taqwa adalah ilmu dan amal, naluri, hati dan etika. Dengan taqwa, hati menjadi terkondisi untuk selalu berdzikir pada Allah dan anggota-anggota badan berinteraksi secara seimbang dan harmonis. Ketaqwaan hanya Allah anugrahkan kepada orang-orang yang berserah diri, beraml dan berbuat baik [47:17] dalam bentuk petunjuk. Sedangkan petunjuk berpangkal dari keimanan kepada Allah SWT [64:11].

2)   Kondisi keimanan seseorang tidak selalu stabil, sebagaimana sabda Rasulullah: “Iman itu kadang-kadang naik kadang-kadang turun.Maka perbaruilah iman kalian dengan Laa ilaaha illallah.” (HR. Ibnu Islam)

 

Jalan Menuju Keimanan


            Jalan menuju keimanan tidaklah mudah, senantiasa selalu bertentangan dengan hawa nafsu manusia, mendaki lagi sukar [90:10-11].Rasulullah menggambarkan “Surga itu dikelilingi oleh berbagai hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi berbagai hal yang tidak menyenangkan.” (HR.Muslim)
Untuk mempertahankan kondisi keimanan dalam rangka mencapai ketakwaan diperlukan istiqomah dan kesungguhan hati (mujahadah) [29:69, 9:20].
Dengan tabiat jalan keimanan yang demikian, banyak orang tidak sanggup beristiqomah dalam mempertahankan keimanannya karena mementingkan hawa nafsunya sehingga terjerumus dalam kemusyrikan atau hal-hal yang dapat merusak keimanan.
Karena itu, bukanlah hal yang mustahil jika seseorang yang beriman pada waktu kemarin, hari ini dapat tergelincir dalam kekafiran.Keimanan seseorang tidak dapat dijamin keabadiannya, kecuali jika selalu dipelihara [5:54]

Konsekuensi Keimanan
Orang yang beriman akan diuji, karena hal ini merupakan sunatullah untuk membuktikan benar tidaknya keimanan seseorang [29:2-3].Bentuk ujian dapat berupa kesenangan atau kesusahan [2:155-156, 21:35, 39:49, 89:15-19].

Bagi orang beriman, setiap kesenangan hidup hanya akan meningkatkan rasa syukurnya ke hadirat Allah SWT dan setiap musibah dan cobaan hanya akan meningkatkan kesabaran dan keimanannya terhadap Allah SWT seperti sabda Rasulullah SAW: “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman.Jika ia diberi karunia, ia bersyukur dan itu kebaikan baginya.Dan jika ia tertimpa musibah, ia sabar dan tawakal dan itu(pun) kebaikan baginya.” Cara mensikapi bentuk-bentuk ujian, lihat QS. 2:156-167; 3:15-17.
REFERENSI

Dr.Ali Gharisah, Beriman yang Benar, GIP

Abdul Majid Aziz Azzindani, Jalan Menuju Iman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *