BALASAN ALLAH KEPADA ORANG-ORANG ZHALIM

balasan Allah kepada orang zhalim pemuda istiqamah yayasan istiqamah bandung

Ustadz Farid Okbah, M.A. dan Ustadz Mustofa B. Nahrawardaya

Masjid Istiqomah / Ahad, 22 Mei 2016

Oleh: Dobby Riynaldi Gusti

Di dalam kehidupan di dunia, hendaknya kita dapat menjaga hubungan yang baik antar sesama manusia, baik itu terhadap sesama muslim maupun terhadap orang kafir. Islam muncul untuk menegakkan keadilan dan meninggalkan kezhaliman, bukan sebaliknya. Dalam islam, kita diajarkan untuk tidak saling membunuh, kita diajarkan untuk dapat berbuat adil, kita diajarkan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan hal-hal baik lainnya. Sebagai manusia, kita pun hendaknya bersikap hati-hati terhadap orang-orang yang terzhalimi, karena orang-orang yang terzhalimi termasuk kedalam kelompok yang do’a nya disegerakan oleh Allah. Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak tertolak, yaitu :

  1. Do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka.
  2. Seorang pemimpin yang adil.
  3. Orang yang terzhalimi.

Dosa zhalim terhadap manusia termasuk ke dalam kelompok dosa yang besar. Untuk itu, hendaknya kita segera bertaubat dan meminta maaf apabila kita telah berbuat zhalim. Setidaknya ada dua kerugian yang akan kita peroleh jika kita berbuat zhalim, yaitu :

  1. Amal kita akan berpindah.
  2. Keburukan-keburukan dari orang yang terzhalimi akan berpindah kepada kita.

Ustadz Farid Okbah mengatakan, ulama mengalami beberapa keadaan, yaitu:

  1. Ulama akan bertindak sebagai pemimpin/penguasa dan juga akan bertindak sebagai ulama, yaitu seperti saat zaman kekhalifahan.
  2. Akan muncul pemimpin/penguasa yang diiringi dengan munculnya ulama. Mereka saling bekerja sama dalam menjalankan pemerintahan. Ulama memberikan nasihatnya kepada pemimpin/penguasa. Apabila ulama itu baik, maka baik pula pemimpin/penguasanya dan apabila ulama itu buruk, maka buruk pula pemimpin/penguasanya.
  3. Ulama dimusuhi pemimpin/penguasa hingga banyak ulama-ulama yang di zhalimi dengan dipenjara dan lain-lain.
  4. Pemimpin/penguasa mengendalikan ulama. Misalnya kejadian-kejadian munculnya ulama pada saat pemilu untuk mendukung calon-calon pemimpin/penguasa.

Kemudian, dari lima fase dunia akhir zaman yang kita kenal (nubuwah, khilafah ‘ala minhaaj al-nubuwah, kerajaan yang menggigit, kerjaan diktator, dan kembali lagi ke zaman khilafah ‘ala minhaaj al-nubuwah), saat ini kita berada pada zaman kerajaan diktator. Beberapa diantara ciri-ciri dari fase ini adalah :

  1. Krisis kepemimpinan.
  2. Umat muslim bagaikan buih dilautan. Jumlah kita banyak tapi mental kita kecil.
  3. Lahir banyak aliran sesat.
  4. Penuh dengan fitnah.
  5. Orang membunuh secara mutilasi.
  6. Banyaknya kezhaliman.

Dari beberapa ciri-ciri yang ada, salah satu yang sangat terlihat yang terjadi pada umat islam saat ini adalah fitnah terorisme. Menurut Ustadz Mustofa B. Nahrawardaya, bahkan apabila fitnah terorisme ini dijatuhkan kepada agama lain selain agama islam, maka agama yang dijatuhi fitnah tersebut akan hancur sehancur-hancurnya. Kemudian muncul pula islamphobia yang sengaja dibuat orang-orang kafir dengan tujuan agar semua orang benci terhadap islam dan tidak mau memeluk islam. Muncul pula ISIS. Ada pula kejadian ustadz dibunuh di luar pengadilan hanya karena ia merupakan terduga teroris yang tidak jelas bukti-buktinya, Siyono. Ada pula kejadian seorang tukang nasi goreng ditangkap hanya karena memakai kaos bertuliskan kalimat tauhid, sedangkan sekelompok orang yang memakai kaos PKI dibiarkan. Sungguh sangat memilukan tentunya melihat kezhaliman-kezhaliman yang dialami oleh umat muslim saat ini. Tapi yang perlu kita tahu, islam adalah agama yang dijaga oleh Allah. Maka seburuk apapun perlakuan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap islam, islam selamanya akan tetap tegak.

Oleh karena itu, untuk menghadapi zaman yang penuh dengan fitnah ini, perlu adanya suatu ukhuwah islamiyah yang rapat, tegakkan keyakinan, dan tidak terpecah belah oleh suau kelompok/golongan. Tolonglah saudara kita yang dizhalimi dan cegahlah saudara kita dari berbuat zhalim. Kita harus bertindak. Bersikaplah amar ma’ruf nahi munkar. Kita harus bersuara. Sebagaimana kisah seekor semut yang membawakan butiran air kecil untuk memadamkan api yang akan membakar Nabi Ibrahim. Memang air tersebut tak akan mampu memadamkan besarnya api yang ada, tapi dengan sebutir air tersebut semut itu cukup membuktikan ada diposisi mana ia berpihak.

“Diantara manusia yang paling zhalim adalah seseorang yang membiarkan sahabatnya melakukan perbuatan yang bisa merugikan akhiratnya. Ia tak mau menasihatinya karena takut bila nasehat akan merusak persahabatannya – Act El-Gharantaly”.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *