8 POINT BEKAL MUJAHID (NO.3)

8 point bekal mujahid sabar pemuda istiqamah yayasan istiqamah bandung

 

8 Point Bekal Mujahid (3. Sabar)

? Ustadz Irfan Hakim

? 14 Sya’ban 1437 H (21 Mei 2016)

? Masjid Istiqamah Bandung

Bismillahirrahmaanirrahiim..

“Tidak ada kenikmatan yang Allah berikan melebihi nikmat jihad”

Pertemuan-pertemuan sebelumnya telah di sampaikan 2 point bekal mujahid, yaitu

  1. Ikhlas
  2. Taqwa

Bekal mujahid selanjutnya yaitu Sabar

Banyak sekali ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sabar, salah satunya di dalam QS. Ali Imran [3] : 200

Didalam ayat tersebut ada sebuah penekanan terhadap sabar dan juga ada kata ribath (berjaga-jaga di perbatasan)

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda : “Berjaga-jaga di perbatasan agar musuh tidak masuk, lebih baik dari pada shalat di dekat hajar aswad”

“Ada 2 mata yang tidak dapat disentuh oleh api neraka, yaitu: mata yang menangis di keheningan malam karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di jalan Allah.”

✅ Kesabaran merupakan cahaya

✅ Kesabaran dapat melahirkan amal shaleh

Asshabru ‘indasshidmatil uula

“Kesabaran yang paling menentukan yaitu kesabaran yang pertama”

Ketika Allah menguji seseorang, dan dia bisa sabar menghadapi ujian yang pertama, maka dia akan mudah bersabar atas ujian-ujian yang datang selanjutnya.

Ada 3 kesabaran

  1. Asshabru ‘alaatthaa ‘aati (Kesabaran dalam ketaatan)

Jika seorang mujahid mendapatkan ilmu/perintah yang datangnya dari Allah, maka dia wajib mentaati perintah tersebut.

Contohnya,

✅ Jika seorang mujahid mendengar adzan maka dia bergegas untuk shalat berjamaah di masjid.

✅ Allah memerintahkan di dalam Al-Qur’an untuk bertahajud di malam hari, maka seorang mujahid pasti melaksanakan perintah tersebut

“Sungguh kalian itu berjihad memikul amal-amal shaleh yang kalian lakukan sebelum perintah jihad itu di tegakkan.” (Umar bin Khattab)

Setan itu hanya mengganggu dengan 2 cara (QS. Al-Hijr [15] : 39) yaitu:

? Setan mengganggu dengan menghiasi amal Shaleh

? Setan mengganggu dengan menyesatkan manusia agar berhenti melakukan amal shaleh

  1. Asshabru ‘anilma’aa shii (Sabar ketika ada peluang maksiat)

“Innamaa faataltum bi a’maa likum”

  1. Asshabru ‘anil adzaa (Sabar dari musibah)

Seperti kisah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, Ummu Sulaim mempunyai anak yang bernama Abu Umair. Suatu ketika Abu Umair menderita sakit yang cukup parah. Pada saat yang sama, Abu Thalhah sedang ada keperluan keluar dalam waktu agak lama, dan ketika itu anaknya meninggal dunia. Karena suaminya tidak ada di rumah, Ummu Sulaim mengurus sendiri jenazah anaknya. Ia memandikan dan mengkafaninya serta membaringkannya di tempat tidur.

Hari itu Abu Thalhah sedang berpuasa sunnah, karena itu Ummu Sulaimpun menyiapkan makanan bagi suaminya untuk berbuka. Ia juga berhias dan memakai wangi-wangian untuk menyambut suaminya. Malam harinya Abu Thalhah pulang, ia berbuka dengan makanan yang disiapkan istrinya. Ia bertanya tentang keadaan anaknya yang sakit, dan Ummu Sulaim menjawab, “Alhamdulillah, dia dalam keadaan yang baik-baik saja. Engkau tidak perlu memikirkan keadaannya lagi.”

Tentu, maksudnya adalah menenangkan suaminya tanpa ia harus mendustainya. Karena sudah meninggal, jelas saja tidak perlu dipikirkan lagi. Tetapi Abu Thalhah menjadi tenang, ia meneruskan makannya. Malam itu ia juga menggauli istrinya, kemudian tertidur.

Ketika bangun pagi harinya, Ummu Sulaim yang sudah bangun terlebih dulu bertanya, “Wahai suamiku, seandainya seseorang diberi suatu amanah, kemudian pemiliknya mengambilnya kembali, haruskan ia mengembalikannya kembali?”

“Tentu,” Kata Abu Thalhah, “Dia harus mengembalikannya, ia tidak punya hak untuk menyimpannya!”

Mulailah Ummu Sulaim menjelaskan keadaan anaknya, “Suamiku, Allah telah mengamanatkan Abu Umair kepada kita, namun kini Dia telah memanggilnya kembali kemarin.”

Mendengar penuturan ini Abu Thalhah jadi sedih, bahkan sedikit marah. Ia menyesali kenapa Ummu Sulaim tidak memberitahukannya semalam. Ia menemui Nabi SAW dan mengadukan apa yang dilakukan istrinya. Ternyata Rasulullah SAW memuji kesabaran dan apa yang dilakukan Ummu Sulaim tersebut, beliau juga mendoakan, “Semoga Allah SWT memberkati hubunganmu tadi malam dengan istrimu.”

Doa ini menjadi kenyataan. Dari hubungannya itu Ummu Sulaim melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Abu Thalhah. Dan lama berselang setelah Nabi SAW wafat, Abdullah mempunyai sembilan anak yang semuanya hafal Qur’an (al Hafizh)

Wallahu ‘alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *